Survei CNN: 40 Makanan Terbaik dari Indonesia

VIVAnews — Jagad kuliner Indonesia patut berbangga. Sebab, rendang, masakan daging dari Sumatera Barat menjadi juara dunia. Survei CNN yang diikuti lebih dari 35.000 orang dari seluruh dunia menobatkan rendang sebagai makanan paling lezat di muka bumi.

Dua makanan khas Indonesia juga masuk jajaran terenak, yakni nasi goreng, ada di ranking dua, dan sate, yang ada di urutan ke-14.

Ternyata, catatan soal masakan Indonesia tak berhenti sampai di situ, laman CNN Go juga memuat daftar 40 makanan terbaik di Indonesia, mendeskripsikan, dan mengenalkannya ke dunia.

“Setelah pembaca memilih rendang sebagai makanan paling enak di dunia, kami berpikir, ini saatnya memberikan kepercayaan pada masakan Indonesia untuk menjadi pusat perhatian,” demikian dimuat situs CNN.

CNN juga mengiming-imingi pembacanya dengan pengantar, bahwa masakan Indonesia mencakup mie yang direndam kuah superlezat, kari pedas yang rasanya nendang, ikan yang dibungkus daun pisang alias pepes, salad sayuran dengan saus kacang manis — yang kita kenal sebagai gado-gado atau pecel. “Sambal, martabak, rendang. Kalau Anda bisa membaca daftar ini tanpa ngiler, meneteskan air liur. Itu berarti, Anda lebih baik dari kami.”

Laman CNN juga menyertakan sejumlah restoran di Jakarta yang direkomendasikan untuk menikmati rahasia dapur nusantara.

Meski tidak bermaksud meranking yang terbaik, masakan yang ada di urutan pertama adalah sambal. Entah berapa resep sambal yang ada di seantero Indonesia, mungkin ratusan — lain daerah, lain juga bumbu yang dipakai. Sambal bahkan ‘wajib’ dalam menu makan orang Indonesia.

Bakso dan nasi goreng juga masuk dalam daftar lima masakan pertama. Seperti diketahui, Presiden Amerika, Barack Obama ikut menjadi ‘duta besar’ masakan Indonesia, ketika menyebut bakso dan nasi goreng sebagai makanan favoritnya ketika tinggal di Indonesia, saat menjadi ‘Anak Menteng’.

Yang menarik adalah makanan di urutan 40, yakni Indomie — satu-satunya makanan kemasan yang ada dalam daftar.

Berikut daftar 40 makanan terbaik di Indonesia versi CNN:

1. Sambal
2. Sate
3. Bakso
4. Soto
5. Nasi goreng
6. Gado-gado
7. Nasi uduk
8. Nasi padang
9. Ayam goreng
10. Bakmi goreng
11. Gudeg
12. Rawon
13. Pecel lele
14. Opor ayam
15. Mie ayam
16. Babi guling
17. Gulai
18. Bubur ayam
19. Bakpao
20. Asinan sayur
21. Cah kangkung
22. Pepes Ikan
23. Pempek
24. Perkedel
25. Martabak
26. Sayur asem
27. Sop buntut
28. Ketoprak
29. Balado terong
30. Lontong sayur
31. Rendang
32. Tahu gejrot
33. Sop kambing
34. Siomay
35. Ikan bakar
36. Daun pepaya
37. Otak-otak
38. Bebek goreng
39. Gorengan
40. Indomie

Sumber : http://whjobs.info/survei-cnn-40-makanan-terbaik-dari-indonesia.html

Meniru perbuatan Non Muslim

Diriwayatkan dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah saw bersabda,”Barangsiapa yang meniru suatu kaum maka dia termasuk dari mereka.” (HR. Abu Daud yang dishahihkan oleh Ibnu Hibban)

Meniru-niru ini mengandung beberapa arti, yaitu menyerupai, mengikuti, menuruti atau bersesuaian. Didalam hal ini, islam memiliki ciri khas tersendiri yang berasal dari Allah swt yang membedakan umatnya dari umat-umat lainnya, baik didalam aqidah, ibadah maupun akhlak. Karena itu, Rasulullah saw melarang setiap umatnya untuk mengambil atau meniru-niru prilaku yang menjadi ciri khas orang-orang diluar islam, sebagaimana disebutkan didalam hadits diatas.
Al Munawiy dan al Alqomiy mengatakan bahwa makna “barangsiapa yang meniru suatu kaum” yaitu didalam berhias dengan perhiasan-perhiasan mereka, berperangai dengan perangai mereka, berpakaian dengan pakaian mereka dan sebagian perbuatan-perbuatan mereka.
Al Qori mengatakan bahwa maknanya adalah barangsiapa menjadikan dirinya meniru orang-orang kafir, seperti dalam berpakaian atau yang lainnya, atau meniru orang-orang fasiq, pelaku kejahatan, ahli tashawwuf, orang-orang shaleh atau orang-orang baik maka dia termasuk dari mereka, yaitu didalam dosa dan kebaikan.
Al Qomiy mengatakan bahwa barangsiapa yang meniru orang-orang shaleh maka dia akan mulia sebagaimana mereka telah dimuliakan. Dan barangsiapa yang meniru orang-orang fasiq maka dia tidak akan mulia. Barangsiapa terdapat pada dirinya tanda-tanda kemuliaan maka dirinya mulia walaupun kemuliaan itu belum terwujud padanya.
Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan didalam “ash Shiroth al Mustaqim” bahwa Imam Ahmad dan yang lainnya telah berargumentasi dengan hadits ini. Hadits ini paling tidak menunjukkan pengharaman tasyabbuh (meniru-niru) mereka sebagaiamana didalam firman-Nya :
Artinya : “Dan barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin maka Sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka.” (QS. Al Maidah : 51)
Senada dengan perkataan Abdullah bin ‘Amr bahwa barangsiapa yang membangun suatu bangunan di tanah orang-orang musyrik lalu membuat perayaan hari raya mereka dan meniru-niru mereka hingga dirinya meninggal dunia maka dia akan dikumpulkan pada hari kiamat bersama mereka.”
Ada kemungkinan bahwa yang dimaksud adalah meniru-niru secara mutlak yang menjadikannya kufur… Ada pula kemungkinan bahwa dirinya termasuk dari mereka didalam kadar tertentu sesuai dengan yang ditiru mereka dalam hal itu. Apabila ia adalah suatu kekufuran atau kemaksiatan atau berupa syiar-syiarnya maka hukumnya adalah seperti itu pula. Telah diriwayatkan dari Ibnu Umar berupa larangan meniru orang-orang ‘ajam,”Barangsiapa yang meniru-niru suatu kaum maka dia termasuk dari mereka.”, demikian disebutkan oleh al Qodhi Abu Ya’la.

Para ulama berargumentasi dengan hadits ini tentang makruhnya segala sesuatu dari pakaian selain kaum muslimin. Diriwayatkan oleh Tirmidzi dari hadits ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya bahwa Rasulullah saw bersabda,”Bukanlah dari kami, orang yang meniru-niru selain kami.” (Aunul Ma’bud juz XI hal 56 – 57)
Dengan demikian dilarang bagi setiap muslim untuk meniru orang-orang non muslim didalam segala sesuatu yang menjadi ciri khas atau syiar mereka, baik didalam perkara-perkara harian, seperti : pakaian, peralatan-peralatan makan, minum, simbol-simbol tertentu maupun didalam perkara-perkara ibadah dengan niat meniru-niru mereka dan dilakukannya dengan kerelaan tanpa ada keadaan darurat yang memaksanya.
Termasuk yang dilarang adalah ikut merayakan dan meramaikan hari raya mereka atau majlis-majlis khusus yang merupakan bagian dari perayaan mereka, seperti tahun baru cina (imlek). Imlek menurut kepercayaan orang-orang Tionghoa adalah upacara sembahyang ditujukan kepada Sang Pencipta sebagai wujud syukur dan doa harapan agar di tahun depan mendapat rezeki lebih banyak. Imlek juga bertujuan untuk menjamu leluhur dan sebagai sarana silaturahmi dengan kerabat dan tetangga. Mereka pun mempersembahkan beberapa makanan—yang merupakan kesukaan para leleuhur—sebagai lambang kemakmuran, keselamatan dan kebahagiaan.
Firman Allah swt :
Artinya : “Bagi tiap-tiap umat telah kami tetapkan syari’at tertentu yang mereka lakukan.” (QS. Al Hajj : 67). Termasuk syariat adalah kiblat, tata cara sembahyang, berpuasa dan tidaklah ada bedanya antara mengikuti mereka didalam hari raya maupun tempat-tempat sucinya.

sumber : http://www.eramuslim.com/ustadz-menjawab/meniru-perbuatan-non-muslim.htm

Asal muasal meniup trompet tahun baru

PERAYAAN malam tahun baru boleh jadi merupakan hari pesta sedunia, jutaan orang di seluruh penjuru dunia, termasuk di Indonesia, tumpah ke jalan-jalan atau di tempat-tempat hiburan merayakan pergantian tahun. Di tempat-tempat itu mereka meluapkan kegembiraan seakan-akan baru saja memenangi sebuah pertandingan yang mahaberat.

Bagi orang modern, termasuk masyarakat di Indonesia, perayaan tahun baru mungkin hanyalah sebagai suatu momen untuk berpesta dan berhura-hura. Setelah sibuk sepanjang tahun, orang-orang merasa bahwa berpesta pora pada malam pergantian baru merupakan sesuatu yang wajar untuk melepas kepenatan. Namun, jika menilik sejarah, perayaan tahun baru tidaklah sekadar pesta biasa, tetapi sarat dengan berbagai tradisi keagamaan seperti kaum pagan, Kristen, dan juga Yahudi.

Sebelum berlakunya kalender Gregorian, bangsa Eropa di abad pertengahan umumnya menjadikan tanggal 25 Maret sebagai awal tahun baru. Mereka . menyebut hari ini The Feast of Armounciarion, “Hari Raya Pemberitahuan”. Di dalam tradisi Kristen, tanggal ini dipercaya sebagai hari saat Bunda Maria didatangi Jibril yang memberitahukannya bahwa ia akan melahirkan seorang anak Tuhan.

Setelah diperkenalkan kalender Gregorian pada tahun 1582, secara bertahap kerajaan-kerajaan di Eropa merayakan tahun baru setiap tanggal satu Januari. Kalender Gregorian ini disebut juga kalender Kristen karena menjadikan kelahiran Yesus sebagai tanggal pertama dari kalender tersebut. Meski demikian, kapan persisnya kelahiran Yesus masih menjadi perdebatan di kalangan umat Kristiani. Namun yang jelas, pembuatan kalender ini terkait dengan kepentingan religius di dalam agama Kristen. Sebagai contoh, penetapan hari Minggu (Sunday) sebagai hari libur. Hari ini merupakan hari khusus untuk berkhidmat kepada Tuhan dalam tradisi Kristen, menggantikan hari Sabtu yang lazim dalam tradisi Yahudi.

Salah satu hal yang unik menjelang datangnyamalam tahun baru adalah menjamurnya penjualan terompet. Hal ini terkait dengan kesenangan orang merayakan malam tahun baru dengan membunyikan terompet sekeras mungkin untuk memeriahkan suasana. Kebisingan suara terompet ini mencapai puncaknya pada pukul dua puluh empat, atau tepat tengah malam.

Tradisi meniup terompet ini pada mulanya merupakan cara orang-orang kuno untuk mengusir setan. Orang-orang Yahudi belakangan melakukan hal itu sebagai kegiatan ritual yang dimaknai sebagai gambaran ketika Tuhan menghancurkan dunia. Mereka melakukan ritual meniup terompet ini pada waktu perayaan tahun baru Yahudi, Rosh Hashanah, yang berarti “Hari Raya Terompet”, yang biasa jatuh pada bulan September atau Oktober. Bentuk terompet yang melengkung melambangkan tanduk domba yang dikorbankan dalam peristiwa pengorbanan Isaac (Nabi Ishaq dalam tradisi Muslim). Hal ini sangat berbeda dengan ajaran Islam yang menetapkan bahwa Nabi Ismail-lah, saudara Nabi Ishaq, yang diminta Allah untuk dikorbankan.

Bunyi terompet yang bersahut-sahutan biasanya belum lengkap jika tidak diikuti dengan pesta petasan dan kembang api. Sebagaimana membunyikan trompet, tradisi ini merupakan ritual untuk mengusir setan di dalam tradisi bangsa Cina. Selain itu, petasanjuga dipercaya dapat mendatangkan keberuntungan.

Tidak seperti tradisi dalam agama dan kebudayaan lain, Islam tidak pernah menjadikan tahun baru sebagai sebuah hari raya, termasuk tahun baru Hijriah sekalipun. Meski di Indonesia, tahun baru Hijriah merupakan hari libur nasional, tetapi kedudukannya tetaplah bukan hari raya. Jika Islam sendiri tidak pernah merayakan tahun baru, maka mengapa umat Islam turut pula merayakan perayaan yang sebenarnya merupakan tradisi agama-agama lain? Bukankah Nabi saw. telah mengingatkan bahwa mereka yang ikut-ikut tradisi suatu kaum, maka ia termasuk dalam golongan kaum itu? (Wendi /arman, peneliti Institut Pemikiran Islam Pembangunan Insan) ***

sumber : http://bataviase.co.id/node/513258

Agar mudah menghafal

Ada yang berpendapat, semakin tua kita akan semakin susah untuk menghafal (Nah loh). Eitzzz tenang… menurut Kitab”Ta’limul Muta’allim Thariqit Ta’allum karya Syeikh Tajuddin Nu’man bin Ibrahim bin Al-Khalil Zarnuji, yang disyarah (diberi komentar) oleh Syeikh Ibrahim bin Ismail, ada beberapa tips agar kita mudah menghafal yaitu :

1. Bersungguh – sungguh dan kontinuitas

2. Menyedikitkan makan

3. Membiasakan melakukan shalat sunah di sepertiga malam yang akhir, seperti: Tahajud

4. Membiasakan diri membaca Alquran

5. Membiasakan membaca bacaan berikut sebelum membuka, membaca, dan atau menghafal kitab/pelajaran:

Bismillaahi wa subhaanallaahi wal hamdu lillaahi wa laa ilaa ha illallaahu wallaahu akbar wa laa haula wa laa quwwata illaa billaahil ‘aliyyil ‘adhiim. al-‘aziizil ‘aliim

Artinya:

“Dengan menyebut nama Allah, Mahasuci Allah dan segala puji bagi Allah, tiada Tuhan selain Allah dan Allah Mahabesar, dan tiada daya dan kekuatan melainkan dari Allah Yang Mahaluhur lagi Mahaagung, Mahamulia, dan Maha Mengetahui.”

6. Setiap selesai shalat fardhu lima waktu membaca:

Aamantu billaahil waahidil ahadil haqqi wahdahu laa syariikalahu wa kafartu bimaa siwaah

Artinya:
“Aku percaya kepada Allah Yang Mahaesa ZatNya, sifat-sifatNya, dan perbuatanNya, yang hak berdiri sendiri, tiada sekutu bagiNya, dan aku mengingkari sesuatu selain Allah.”

7. Memperbanyak bershalawat kepada Nabi saw, menghindari dosa, dan meninggalkan maksiat

8. Membiasakan diri sikat gigi (bersiwak)

9. Meminum madu, memakan anggur merah 21 buah setiap pagi sebelum makan apa-apa, juga makan kurma minimal 7 buah setiap hari

10. Tidak membicarakan sesuatu yang sia-sia, sedikit bergurau, bergaul dengan ulama dan orang-orang sholeh

11. Ilmu yang didapatkan tidak semata untuk memperoleh kenikmatan duniawi, namun juga diniatkan untuk memperoleh ridho ilahi.

Berwisata ke Lampung yuk

Provinsi Lampung

Lampung adalah provinsi yang terlatak di paling selatan pulau sematra. Sebagai pintu masuk sumatra, Lampung sangat ramai di lalui berbagai macam kendaraan bermotor dari pulau jawa. Bandar Lampung sebagai ibu kota provinsi berjarak kurang lebih 2 jam dari pelabuhan Bakauheni. Di Bandar Lampung kita dapat menjumpai pasar tradisional, rumah sakit, pusat – pusat perbelanjaan, terminal, pusat pendidikan dan perumahan.

Pusat Kota Bandar Lampung


Jika Anda mengunjungi Bandar Lampung, tidak lengkap rasanya jika tidak mengunjungi sentra jajanan khas lampung kripik pisang. Terletak di sepanjang JL. Panglima Polem (orang didaerah sana biasa menyebutnya gang PU). Di Provinsi Lampung banyak sekali tempat wisata alam baik pegunungan maupun laut. Diantaranya yang terkenal adalah Pasir Putih, Kalianda Resort, Pantai Mutun, Taman Nasional Way Kambas, Hutan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, dan masih banyak lagi. Jadi tidak ada salahnya jika anda berkunjung ke Lampung dan nikmati panorama alam Sang Bumi Ruwai Jurai.

Apakah Wanita Tercipta Dari Tulang Rusuk Pria?

Perbincangan di seputar penciptaan wanita (yang diwakili oleh Hawa) hingga kini tak kunjung usai. Sementara itu, hadis Rasullullah s.a.w. menyatakan,
اسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ فَإِنَّ الْمَرْأَةَ خُلِقَتْ مِنْ ضِلَعٍ وَإِنَّ أَعْوَجَ شَيْءٍ فِي الضِّلَعِ أَعْلاَهُ فَإِنْ ذَهَبْتَ تُقِيمُهُ كَسَرْتَهُ وَإِنْ تَرَكْتَهُ لَمْ يَزَلْ أَعْوَجَ فَاسْتَوْصُوا بِالنِّسَاء.
“Saling berwasiatlah kalian untuk berbuat baik kepada wanita. Pasalnya, mereka tercipta dari tulang rusuk. Yang paling bengkok dari tulang rusuk itu adalah yang paling atas. Jika berusaha meluruskannya, engkau akan membuatnya patah. Dan jika dibiarkan, ia akan terus bengkok. Karena itu, saling berwasiatlah kalian untuk berbuat baik kepada wanita.”

الْمَرْأَةُ كَالضِّلَعِ إِنْ أَقَمْتَهَا كَسَرْتَهَا وَإِنِ اسْتَمْتَعْتَ بِهَا اسْتَمْتَعْتَ بِهَا وَفِيهَا عِوَجٌ (مُتَّفَقٌ عَلَيْه)
“Wanita itu bengkok seperti tulang rusuk, apabila kamu berusaha meluruskannya maka ia akan patah. Namun bila kamu membiarkannya tetap bengkok maka kamu hanya ingin bersenang-senang dalam kebengkokannya”

Dari sini ada sebagian ulama yang memaknai penciptaan dari tulang rusuk tersebut sebagai kiasan. Menurut mereka, jika melihat konteksnya, sebab penyebutan hadis di atas atau yang menjadi landasannya adalah pendidikan terhadap wanita dan penataan rumah tangga. Yakni, jika ingin memperbaiki wanita dengan cepat dan tergesa-gesa, niscaya akan akan mematahkannya. Namun, jika dibiarkan, ia tetap sebagaimana adanya. Dengan demikian, yang hendak dijelaskan oleh hadis di atas bukan penciptaan Hawa dari tulang rusuk Adam. Akan tetapi, untuk menunjukkan bahwa wanita jika dibiarkan dalam kondisinya, ia akan tetap bengkok. Namun, jika berusaha untuk diluruskan dengan cepat, ia akan patah.
“Memperlakukan perempuan itu seperti saat kita bernafas, saat kitamenghirup udara tulang rusuk akan meregang sempit, bila kita menghembuskan napas maka ia akan mengembang mengikuti bentuk aslinya dan memberikan kelegaan.”
Ada kalanya kita harus membimbing perempuan yang kita sayangi sesuai pada norma-norma yang ada agar hidup kita dan dia kelak dapat menghirup keselamatan tapi kadang perlu juga kita memberikan kelapangan jalan agar ia mengikuti kodrat dan nalurinya sebagai perempuan yang ingin dicintai dan disayang…

Dalam riwayat Muslim disebutkan bahwa Rasulullah s.a.w. bersabda:
إِنَّ الْمَرْأَةَ خُلِقَتْ مِنْ ضِلَعٍ لَنْ تَسْتَقِيمَ لَكَ عَلَى طَرِيقَةٍ فَإِنِ اسْتَمْتَعْتَ بِهَا اسْتَمْتَعْتَ بِهَا وَبِهَا عِوَجٌ وَإِنْ ذَهَبْتَ تُقِيمُهَا كَسَرْتَهَا وَكَسْرُهَا طَلاَقُهَا
“Sesungguhnya wanita diciptakan dari tulang rusuk, ia tidak bisa lurus untukmu di atas satu jalan. Bila engkau ingin bernikmat-nikmat dengannya maka engkau bisa bernikmat-nikmat dengannya namun padanya ada kebengkokan. Jika engkau memaksa untuk meluruskannya, engkau akan memecahkannya. Dan pecahnya adalah talaknya.”
Apakah memang wanita diciptakan dari tulang rusuk laki-laki ataukah hanya penyerupaan sebagaimana ditunjukkan dalam hadits yang kedua?

Mengapa Rasullulah sampai khusus membahas masalah ini?
Kedudukan perempuan dimata Allah adalah sama dengan laki-laki dalam hal keimanan. Perempuan diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok, bukan berarti perempuan itu bersifat bengkok (jelek). Ini hanya masalah fungsi saja, dimana laki-laki dan perempuan memiliki fungsi yang berbeda.
Mengapa dari tulang rusuk yang bengkok? Bukankah masih ada tulang yang lain yang lurus. Jika saja dari tulang yang lurus maka akan sempitlah dadanya, karena itu keberadaan perempuan dapat memberi kenyamanan dimana ia berada.Coba kita tengok bentuk tulang rusuk yang bengkok itu, ia berfungsi sebagai kerangka yang menyusun kekuatan tubuh. Jadi perempuan itu juga bagian yang dapat membangun dan menegakkan kehidupan. Dengan tulang rusuk yang bengkok maka banyak organ-organ yang lunak terlindung. Sama halnya dengan perempuan, ia dapat menjaga kehidupan keluarganya, anak-anaknya yang masih lemah.
Bengkoknya bukanlah bentuk kelemahan perempuan, karenanya Rasulullah mengatakan untuk menasihati perempuan secara baik-baik. Hal ini untuk menjaga agar jiwa perempuan tidak patah,sehingga dapat menjalankan fungsi utamanya sebagai ibu, isteri, maupun sebagai insan perempuan itu sendiri. Karena tugasnya itulah perempuan diberi kekuatan oleh Allah.
Allah telah memberikan kekuatan pada perempuan, karena ditangannya akan terlahir penerus keturunan. Anak yang baik terlahir dari kehebatan seorang ibu yang mengasuh dan membesarkannya.

Di balik kesuksesan suami, ada isteri yang hebat yang mendampinginya. Sejatinya wanita harus di perlakukan dengan baik, agar jiwanya terbangun dengan kasih sayang dan kesabaran. Kasih dan sayang sepanjang waktu dalam mendampingi anak-anak dan keluarganya tanpa perasaan tersakiti. Sehingga di harapkan perempuan dapat menjalankan fungsinya dengan baik di dalam keluarga maupun masyarakat..

QS an-Nisâ’/4: 1 (dibuka dengan ayat),
”Wahai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam), dan (Allah) menciptakan pasangannya (Hawa) dari (diri)nya; dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta, dan (peliharalah) hubungan kekeluargaan. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu.“

Dalam ayat ini dinyatakan bahwa dari jiwa yang satu, Allah menciptakan pasangannya. Qatadah dan Mujahid mengatakan bahwa yang dimaksud dengan jiwa yang satu adalah nabi Adam ‚alaihissalam, sedangkan pasangannya adalah Hawa. Qatadah mengatakan Hawa diciptakan dari tulang rusuk Adam. (Tafsir Ath-Thabari, 3/565, 566).
Imam an-Nawawi berkata, dalam hadis ini ada dalil dari ucapan fuqaha dan sebagian mereka bahwa Hawa diciptakan dari tulang rusuk Adam. Allah berfirman: “…yang telah menciptakan kalian dari jiwa yang satu dan dari jiwa yang satu itu Dia menciptakan pasangannya…, dan Rasulullah menerangkan dalam hadis diatas bahwa wanita diciptakan dari tulang rusuk. Hadis ini menunjukkan keharusan berlaku lembut kepada wanita, bersikap baik pada mereka, dan bersabar atas mereka.” (Al-Minhâj, 9/299).
Sedangkan secara medis, dari struktur anatomi tulang rusuk, jumlah iganya antara laki-laki dan wanita sama; 7 iga sejati, 3 iga semu, 2 iga melayang, sehingga jumlah totalnya 12. Tulang rusuk berbentuk panjang agak pipih dan kedua ujung tulangnya merupakan tulang rawan, mungkin karena sifatnya, maka mudah patah bila dibengkokkan. Penjelasan secara medis ini menunjukkan bahwa antara laki-laki dan wanita mempunyai struktur dan jumlah tulang rusuk yang sama, dan karena pada bagian ujungnya berupa tulang rawan maka mudah sekali patah apabila dibengkokkan (sesuai dengan hadis diatas).

Dengan apa manusia setelah Nabi Adam dan Hawa diciptakan?
Berdasarkan firman Allah dalam QS al-Mu’minûn,
”Kemudian, air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik.“ (QS al-Mu’minûn/23: 14)

Dalam QS Yâsîn/36: 77,
”Dan apakah manusia tidak memperhatikan bahwa Kami menciptakannya dari setitik air (mani), maka tiba-tiba ia menjadi penantang yang nyata! ”

Dalam QS al-Insân/76: 2,
”Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat.”
Sehingga dapat disimpulkan bahwa manusia(laki-laki dan wanita) yang ada setelah Nabi Adam a.s. dan Hawa diciptakan Allah dari setetes mani yang bercampur (antara laki-laki dan wanita) sesuai dengan firman Allah diatas. Sedangkan yang diciptakan dari tulang rusuk adalah Hawa dari tulang rusuknya Nabi Adam a.s., sesuai dengan firman Allah dalam surat QS an-Nisâ’ dan hadis shahih, serta penjelasan secara medis mengenai struktur dan komposisi tulang rusuk manusia.
Wallahu’alam bish-Shawab.

sumber : http://muhsinhar.staff.umy.ac.id/

Mayoritas Penghuni Neraka adalah Kaum Wanita

Di antara prinsip akidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah dan merupakan ijma’ mereka adalah meyakini bahwa surga dan neraka adalah makhluk yang Allah telah ciptakan dengan haq dan Dia menetapkan calon penghuni bagi keduanya. Allah jadikan Surga sebagai tempat tinggal abadi yang penuh dengan berbagai kenikmatan bagi orang-orang yang beriman kepada-Nya, senantiasa berbuat amal shalih dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Sedangkan neraka Dia jadikan sebagai tempat tempat tinggal yang mengerikan dan membinasakan bagi setiap orang kafir, musyrik, munafik dan durhaka kepada-Nya. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:

“(Surga itu) telah dipersiapkan bagi orang-orang yang bertakwa.” [QS. Ali Imran: 132] dan firman-Nya: “Neraka itu telah dipersiapkan bagi orang-orang kafir.” [QS. Al-Baqarah: 24, QS. Ali Imran: 131]

Siapakah Mayoritas Penghuni Neraka?

Diriwayatkan dari Abu Sa’id al Khudriy radhiyallahu anhu, ia berkata: “Suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam keluar pada hari raya Idul Adha atau Idul Fitri menuju tempat shalat dan melalui sekelompok wanita. Beliau bersabda,’Wahai kaum wanita bersedekahlah, sesungguhnya aku telah diperlihatkan bahwa kalian adalah mayoritas penghuni neraka.’ Mereka bertanya,’Mengapa wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab,’Kalian banyak melaknat dan durhaka terhadap suami. Dan tidaklah aku menyaksikan orang yang memiliki kekurangan akal dan agama yang dapat menghilangkan akal kaum laki-laki yang setia daripada salah seorang diantara kalian. Mereka bertanya,’Apa yang dimaksud dengan kekurangan agama dan akal kami wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab,’Bukankah kesaksian seorang wanita sama dengan separuh dari kesaksian seorang pria?’ Mereka menjawab,’Benar.’ Beliau berkata lagi,’Bukankah apabila wanita mengalami haidh maka dia tidak melakukan shalat dan puasa?’ Mereka menjawab,’Benar.’ Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam berkata,’itulah (bukti) kekurangan agamanya.’ (HR. Bukhari)

Dalam hadits lain yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Neraka diperlihatkan kepadaku. Aku melihat kebanyakan penghuninya adalah kaum wanita. Lalu, surga diperlihatkan kepadaku, dan aku melihat kebanyakan penghuninya adalah orang-orang fakir.” (HR. Ahmad)

Di dalam riwayat lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku melihat ke dalam Surga maka aku melihat kebanyakan penduduknya adalah orang-orang fakir, dan aku melihat ke dalam neraka maka aku menyaksikan kebanyakan penduduknya adalah wanita.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Abbas dan Imran serta selain keduanya)

Hadits-hadits tersebut di atas memberitahukan kepada kita dengan jelas dan gamblang bahwa mayoritas penghuni surga adalah orang-orang fakir (miskin). Sedangkan penghuni neraka yang paling banyak adalah dari kaum wanita.

Mengapa Wanita Menjadi Mayoritas Penghuni Neraka?

Di dalam kisah gerhana matahari yang mana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para shahabatnya melakukan shalat gerh43;Iana padanya dengan shalat yang panjang, beliau melihat Surga dan neraka. Ketika beliau melihat neraka beliau bersabda kepada para shahabatnya:

“ … dan aku melihat neraka maka tidak pernah aku melihat pemandangan seperti ini sama sekali, aku melihat kebanyakan penduduknya adalah kaum wanita. Para shahabat pun bertanya: “Wahai Rasulullah, Mengapa (demikian)?” Beliau menjawab: “Karena kekufuran mereka.” Kemudian mereka bertanya lagi: “Apakah mereka kufur kepada Allah?” Beliau menjawab:“Mereka kufur (durhaka) terhadap suami-suami mereka, kufur (ingkar) terhadap kebaikan-kebaikannya. Kalaulah engkau berbuat baik kepada salah seorang di antara mereka selama waktu yang panjang kemudian dia melihat sesuatu pada dirimu (yang tidak dia sukai) niscaya dia akan berkata: ‘Aku tidak pernah melihat sedikitpun kebaikan pada dirimu.’ ” (HR. Bukhari dari Ibnu Abbas radliyallahu ‘anhuma)

Di dalam hadits lainnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan tentang sifat wanita penduduk neraka, beliau bersabda :

“ … dan wanita-wanita yang berpakaian tetapi hakikatnya mereka telanjang, melenggak-lenggokkan kepala mereka karena sombong dan berpaling dari ketaatan kepada Allah dan suaminya, kepala mereka seakan-akan seperti punuk onta. Mereka tidak masuk Surga dan tidak mendapatkan wanginya Surga padahal wanginya bisa didapati dari jarak perjalanan sekian dan sekian.” (HR. Muslim dan Ahmad dari Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu)

Dari beberapa hadits yang telah lalu, kita dapat mengetahui beberapa sebab yang menjerumuskan kaum wanita ke dalam api neraka dan bahkan menjadikan mereka golongan mayoritas dari penghuninya. Di antaranya adalah sebagai berikut:

1. Banyak melaknat.

Hal ini sebagaimana ditunjukkan oleh sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: “Kalian banyak melaknat”.
Imam Nawawi menyebutkan bahwa para ulama telah bersepakat akan haramnya melaknat. Laknat dalam bahasa Arab artinya adalah menjauhkan. Sedangkan menurut syariat artinya adalah menjauhkan dari rahmat Allah dan kebaikan-Nya. Dan tidak diperbolehkan bagi seseorang menjauhkan orang-orang yang tidak diketahui keadaannya dan akhir perkaranya dengan pengetahuan yang pasti dari rahmat dan karunia Allah. Karena itu mereka mengatakan,’Tidak boleh melaknat seseorang yang secara dhahir adalah seorang muslim atau kafir kecuali terhadap orang yang telah kita ketahui menurut dalil syar’i bahwa dia mati dalam keadaan kafir seperti Abu Jahal atau iblis.

Adapun melaknat (secara mutlak tanpa menyebut nama tertentu, pent) dengan menyebutkan sifat-sifatnya tidaklah diharamkan seperti melaknat seorang wanita yang menyambung dan minta disambungkan rambutnya, seorang yang mentato dan minta ditato, pemakan riba dan yang memberi makan dengannya, pelukis (makhluk hidup), orang-orang zhalim, fasiq, kafir dan melaknat orang yang merubah batas-batas tanah, orang yang menasabkan seseorang kepada selain ayahnya, membuat sesuatu yang baru di dalam Islam (bid’ah), dan lainnya sebagaimana telah disebutkan oleh dalil-dalil syar’i yang menunjukkan kepada sifat, bukan diri orang tertentu. (Shahih Muslim bi Syarhin Nawawi juz II hal 88 – 89)

2. Durhaka terhadap suami dan mengingkari kebaikan-kebaikannya

Hal ini sebagaimana ditunjukkan oleh sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: “Mereka kufur (durhaka) terhadap suami-suami mereka, kufur (ingkar) terhadap kebaikan-kebaikannya”.

Kedurhakaan semacam ini banyak sekali kita dapati dalam kehidupan keluarga kaum Muslimin, yakni seorang istri yang mengingkari kebaikan-kebaikan suaminya selama sekian waktu yang panjang hanya disebabkan sikap atau perbuatan suami yang tidak cocok dengan kehendak sang istri. Padahal yang harus dilakukan oleh seorang istri ialah bersyukur atas kebaikan yang diberikan suaminya, janganlah ia mengkufurinya karena Allah tidak akan melihat kepada istri semacam ini sebagaimana dijelaskan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Allah tidak akan melihat kepada wanita yang tidak mensyukuri apa yang ada pada suaminya dan tidak merasa cukup dengannya.” (HR. Nasa’i di dalam Al Kubra dari Abdullah bin ‘Amr. Lihat Al Insyirah fi Adabin Nikah halaman 76)

Termasuk dalam bentuk kedurhakaan istri kepada suami adalah hal-hal berikut ini apabila dilakukan tanpa alasan yang dibenarkan syari’at: Tidak melayani kebutuhan seksual suaminya, atau bermuka masam ketika melayaninya, tidak mau berdandan atau mempercantik diri untuk suaminya padahal suaminya menginginkan hal itu, menyebarkan aib suami kepada orang lain, menolak bersafar (melakukan perjalanan) bersama suaminya, mengkhianati suami dan hartanya, membuka dan menampakkan apa yang seharusnya ditutupi dari anggota tubuhnya, berjalan di tempat umum dan pasar-pasar tanpa mahram, bersenda gurau atau berbicara lemah-lembut penuh mesra kepada lelaki yang bukan mahramnya, meminta cerai dari suaminya tanpa sebab yang syar’i, dan yang semisalnya.

3. Tabarruj (bersolek)

Hal ini sebagaimana ditunjukkan oleh sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: “dan wanita-wanita yang berpakaian tetapi hakikatnya mereka telanjang.”

Yang dimaksud dengan tabarruj ialah seorang wanita yang menampakkan perhiasannya dan keindahan tubuhnya serta apa-apa yang seharusnya wajib untuk ditutupi dari hal-hal yang dapat menarik syahwat lelaki. (Jilbab Al Mar’atil Muslimah halaman 120)

Ibnu Abdil Barr berkata: “Wanita-wanita yang dimaksudkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah yang memakai pakaian yang tipis yang menampakkan bentuk tubuhnya dan tidak menutupinya, maka mereka adalah wanita-wanita yang berpakaian pada dhahirnya dan telanjang pada hakikatnya.” (Dinukil oleh Suyuthi di dalam Tanwirul Hawalik 3/103)

Mereka adalah wanita-wanita yang suka menampakkan perhiasan mereka, padahal Allah telah melarang hal ini dalam firman-Nya:

“Dan janganlah mereka menampakkan perhiasan-perhiasan mereka.” (QS. An-Nuur: 31)

Wahai ukhti Muslimah, hindarilah tabarruj dan berhiaslah dengan pakaian yang Islami yang menyelamatkan kalian dari dosa di dunia ini dan azab di akhirat kelak.

Allah Ta’ala berfirman:

“Dan tinggallah kalian di rumah-rumah kalian dan janganlah kalian bertabarruj dengan tabarrujnya orang-orang jahiliyyah pertama dahulu.” (QS. Al-Ahzaab: 33)

Inilah beberapa sebab yang mengantarkan wanita menjadi mayoritas penduduk neraka. Semoga Allah menyelamatkan kita semua dari azab-Nya di dunia dan akhirat. Amiin.

Sumber: abufawaz.wordpress.com